Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Materi Seni Budaya Kelas XI Bab Apresiasi Karya Seni Lengkap

Pengertian Apresiasi Seni

Materi apresiasi seni

Seni Budaya Kelas XI SMA


Apresiasi berasal dari Bahasa Latin Appretiatus yang artinya berupa penilaian terhadap sesuatu.

Kalau dari Bahasa Inggris disebut Appreciate, yang berarti menentukan nilai, melihat karya, menikmati lalu menyadari keindahan karya seni tersebut dan menghayatinya.

Sehingga kegiatan apresiasi ini tidak hanya berhubungan dengan seni, tetapi apa pun yang memang dapat diapresiasikan.

Maka dari itu : Apresiasi seni adalah suatu proses penghayatan suatu karya seni yang dihormati serta penghargaan pada karya seni tersebut dan pembuatnya. Secara umum apresiasi seni bisa diartikan sebagai kesadaran menilai melalui cara menghayati suatu karya seni.


Fungsi Apresiasi Seni

Apresiasi dalam seni memiliki manfaat atau fungsi. Seperti yang sudah disebutkan mengenai pengertian dari apresiasi pada seni, terdapat kegiatan mengenali, memberi penilaian, juga menghargai di mana akan memperngaruhi karya seni tersebut serta seniman atau pembuat seni yang terlibat.

Ada empat fungsi yang menjadi utama dan dapat kamu kenali agar lebih memahami mengenai apresiasi pada seni. Keempat fungsi tersebut sebagai berikut.

1. Untuk Meningkatkan Kecintaan Terhadap Karya Seni


Fungsi pertama adalah untuk meningkatkan kecintaan terhadap karya seni. Atau dapat juga dikatakan sebagai ‘sarana’ yang mampu meningkatkan rasa cinta terhadap karya seni khususnya karya seni yang dibuat oleh anak-anak Indonesia.

2. Untuk Menciptakan Penilaian


Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan penilaian. Penilaian ini berupa sarana dalam menikmati, memberi empat, mendapatkan hiburan, serta menambah wawasan dan pengetahuan atau edukasi.

3. Untuk Mengembangkan Kemampuan


Fungsi ketiga adalah untuk mengembangkan kemampuan. Kemampuan yang merupakan keanggupan diri sendiri dapat berupa mampu menciptakan karya seni atau lain-lain. Sebagai penikmat seni yang memberi apresiasi, terkadang banyak bagian dari kegiatan apresiasi tersebut yang mengasah kemampuan.

4. Untuk Membangun Hubungan


Fungsi keempat atau terakhir ialah untuk membangun hubungan. Hubungan tersebut berupa hubungan timbal-balik yang positif antara pembuat seni dengan penikmat seni.


Tujuan Apresiasi Seni

Selain memiliki empat fungsi atau manfaat, apresiasi seni juga memiliki dua macam tujuan yaitu tujuan pokok dan tujuan akhir.

Tujuan pokok dari apresiasi pada seni berupa memperkenalkan atau mempublikasi karya seni tersebut agar karya seni lebih dapat dinikmati oleh publik atau masyarakat juga maksud serta tujuannya tersampaikan.

dengan adanya apresiasi seni maka kita dapat lebih mudah mengerti maksud dan tujuannya. Sementara itu untuk tujuan akhir, ada tiga poin. Ketiga poin tujuan akhir tersebut sebagai berikut.

1. Mengembangkan nilai estetika karya seni


Estetika adalah kepekaan terhadap keindahan atau seni. Hal ini membuat kita lebih cepat menyadari unsur seni pada karya seni.

2. Mengembangkan daya kreasi


Selain estetika, tujuan akhir berikutnya ialah mengembangkan kreasi. Karena kita menjadi lebih peka dan mengerti maksud dari karya seni, maka daya kreasi kita juga dapat bertambah.

3. Menyempurnakan


Apresiasi pada karya-karya seni juga sebagai ‘penyempurna’ dari karya-karya seni itu sendiri.


Tingkatan Apresiasi Seni

Dalam apresiasi seni atau karya seni terdapat tingkatan-tingkatan yang mendeskripsikan apresiasi seni tersebut. Tiga tingkatan dalam apresiasi seni meliputi Empatik, Estetis, dan Kritik.

Berikut penjelasan mengenai tiga tingkatan tersebut beserta contohnya.

1. Tingkat Empatik


Empatik dalam kamus berarti melibatkan pikiran dan perasaan. Tingkat apresiasi seni ini lebih berupa tangkapan indrawi aatau tangkapan dari indera-indera.

Contohnya ketika mendengar sebuah karya seni musik, kita merasa nyaman dan betah mendengar karya tersebut, lalu timbulah penilaian bahwa karya tersebut bagus.

2 . Tingkat Estetis


Estetis dalam kamus merupakan penilaian terhadap keindahan tersebut. Tingkat apresiasi seni ini berupa pengamatan dan penghayatan.

Di tingkat ini kita sebagai penikmat seni memberi apresiasi yang lebih pada pengamatan, bagaimana bentuk dari karya seni tersebut, atau mengapa karya seni tersebut dapat menjadi karya seni.

Contohnya saat menyaksikan pagelaran seni teater, kita berpikir bagaimana adega tersebut dapat dibuat dan apa fungsi daria degan tersebut. Apakah pas dan bagus, atau tidak.

3. Tingkat Kritik


Kamu pastinya sudah dapat membayangkan bagaimana tingkatan pada tingkat apresiasi ini. Kritik di sini dapat berbentuk klarifikasi, deskripsi, menjelaskan, menganalisis, evaluasi, hingga mengambil kesimpulan.

Contohnya kamu dapat melihat juri-juri dalam ajang-ajang yang ada di televisi misalnya ajang bernyanyi.

Tingkat apresiasi mereka sudah berada di tingkat ini di mana akan memberi masukan, menilai dengan tidak lupa memberi penjelasan, dan memberi evaluasi juga kesimpulan.

Itu dia bagian-bagian dalam apresiasi seni yang tidak dapat dipisahkan.

Ada pun pengertian yang dikemukan oleh para ahli di antaranya menurut Brent G. Wilson, apresiasi pada seni meliputi feeling, valualing, dan emphatizing.

Ketiga poin tersebut adalah suatu tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan perasaan, penilaian, dan rasa empati.

Bentuk rupa dari ketiga poin itu juga berbeda dan tergantung pasa masing-masing penikmat seni. Agar kamu lebih mengerti lagi mengenai apresiasi dalam karya seni, di bawah ini ada beberapa contoh apresiasi seni yang dapat kamu telusuri.


Contoh Apresiasi Seni

Contohnya, ada seorang penikmat seni yang diundang untuk datang ke pameran seni yang digelar oleh beberapa seniman. Penikmat seni tersebut datang karena ini mengenal dan melihat hasil karya seni yang dipamerkan.

Selanjutnya, saat melihat-melihat, beberapa karya seni mampu menarik perhatian penikmat seni tersebut dan membuatnya memberi penilaian dari sudut pandangnya.

Menurutnya beberapa karya tersebut menarik, tetapi kurang warna. Dan dia mengungkapkan penialiannya tersebut pada teman-teman lain juga sang seniman.

Nah, inilah kegiatan apresiasi terhadap seni yang sederhana.

Sebenarnya bentuk dari kegiatan yang termasuk dalam apresiasi seni memang sederhana dan mudah kita temui dalam keseharian kita.

Sebab karya seni sudah menjadi bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan. Ke mana pun kamu melangkah, maka akan bertemu dengan hasil-hasil karya seni, meski terkadang kamu tidak menyadarinya. Semoga ulasan ini menambah informasi dan bermanfaat.


Apresiasi seni rupa adalah aktivitas mengindra karya seni 
rupa, merasakan, menikmati, menghayati dan menghargai nilai-
nilai keindahan dalam karya seni serta menghormati keberagaman 
konsep dan variasi konvensi artistik eksistensi dunia seni rupa.
Secara teoretik menurut Brent G. Wilson dalam bukunya 
Evaluation of Learning in Art Education; apresiasi seni memiliki 
tiga domain, yakni perasaan (feeling), dalam konteks ini terkait 
dengan perasaan keindahan, penilaian (valuing) terkait dengan 
nilai seni, dan empati (emphatizing), terkait dengan sikap hormat 
kepada dunia seni rupa, termasuk kepada profesi perupa (pelukis, 
pepatung, pegrafis, pekeramik, pedesain, pekria, dan lain-lain). 
karena menyadari peran dan kontribusi para seniman tersebut bagi 
masyarakat, bangsa dan negara, atau bagi nilai-nilai kemanusiaan 
pada umumnya.
Pengalaman p ersonal 
mengamati karya seni dilakukan 
dengan mengamati lukisan 
yang dipajang di depan kelas. 
Siswa kemudian menceritakan 
h a s i l p e n g i n d r a a n n y a , 
respons pribadinya, reaksinya, 
analisisnya dan penafsiran 
serta evaluasinya kepada 
lukisan secara lisan. Kemudian 
mendiskusikannya di kelas yang 
dipandu oleh guru yang berperan 
sebagai moderator. Kemudian 
hasil notulis atau rekaman atas 
kemampuan berapresiasi seni 
rupa secara lisan dan hasil diskusi 
itu, disempurnakan oleh siswa 
dalam bentuk karya tulis dengan bahasa Indonesia yang sistematis, 
lugas dan komunikatif.
Guru seni budaya bersama siswa mempersiapkan dan 
melaksanakan aktivitas mengapresiasi karya seni rupa murni 
(seni lukis), sehingga para siswa kompeten merasakan keindahan 
dan makna seni, kemudian menerapkan dan mengamalkan rasa 
keindahan itu dalam kehidupan kesehariannya.


A. Pengembangan Sikap Apresiatif Seni Rupa

Pada hakikatnya semua manusia dianugerahi oleh Tuhan 
apa yang disebut “sense of beauty”, rasa keindahan. Meskipun 
ukurannya tidak sama pada setiap orang, jelas setiap manusia 
sadar atau tidak menerapkan rasa keindahan ini dalam kehidupan 
sehari-hari. Misalnya ketika kita memantas diri dalam berpakaian, 
memilih dasi, memilih sepatu, dan berdandan (sekedar contoh). 
Senantiasa rasa keindahan berperan memandu prilaku kita untuk 
memilih apa yang kita anggap menampilkan citra harmonis, yang 
pada umumnya kita sebut tampan, gagah, cantik, ayu, rapi dalam 
bahasa sehari-hari, yaitu penggunaan kata “lain” menyebut fenomena 
keindahan. Demikian pula dalam melengkapi kebutuhan hidup, kita 
selalu dipandu oleh rasa keindahan.

busana, keramik, perhiasan, alat musik, dan banyak lagi.
Hal yang sama terdapat pula di daerah pedalaman, betapapun 
sederhana tingkat kehidupan manusia, dalam perlengkapan dan 
peralatan hidupnya, seperti busana, tata rias, motif ornamen, 
tari-tarian, musik, dan banyak sekali karya-karya seni etnik yang 
sangat indah dan mengagumkan. Dengan uraian ini, menjadi jelas 
pula, bahwa seni terdapat di mana-mana. Itulah sebabnya kesenian 
secara antropologis ditempatkan sebagai unsur kebudayaan yang 
universal, sama seperti rasa keindahan yang juga bersifat universal.
Tingkat kepekaan perasaan keindahan akan berkembang lewat 
kegiatan menerima (sikap terbuka) kepada semua manifestasi seni 
rupa, mengapresiasi aspek keindahan dan maknanya (seni lukis, seni 
patung, seni grafis, desain, dan kria) menghargai aspek keindahan 
dan kegunaannya (desain produk atau industri, desain interior, desain 
komunikasi visual, desain tekstil, dan berbagai karya kria (kria 
keramik, tekstil, kulit, kayu, logam dan lain-lain). Melalui proses 
penginderaan, kita mendapatkan pengalaman estetis. Dari proses 
penghayatan yang intens, kita akan mengamalkan rasa keindahan 
yang dianugerahkan Tuhan itu dalam kehidupan keseharian.
Kemampuan mengamati karya seni rupa murni dan seni rupa 
terapan, dalam arti praksis adalah kemampuan mengklasifikasi, 
mendeskripsi, menjelaskan, menganalisis, menafsirkan dan 
mengevaluasi serta menyimpulkan makna karya seni. Aktivitas 
ini dapat dilatihkan sebagai kemampuan apresiatif secara lisan 
maupun tulisan. Aktivitas pendukung, seperti membaca teori seni, termasuk 
sejarah seni dan reputasi seniman, dialog dengan tokoh seniman 
serta budayawan, merupakan pelengkap kemampuan berapresiasi, 
sehingga para siswa dapat menyertakan argumentasi yang logis 
dalam meyimpulkan makna seni.
Secara psikologis pengalaman pengindraan karya seni itu 
berurutan dari sensasi (reaksi panca indra kita mengamati seni), 
emosi (rasa keindahan), impresi (kesan pencerapan), interpretasi 
(penafsiran makna seni), apresiasi (menerima dan menghargai 
makna seni, dan evaluasi (menyimpulkan nilai seni). Aktivitas ini 
berlangsung ketika seseorang mengindra karya seni, biasanya sensasi 
tersebut diikuti dengan aktivitas berasosiasi, melakukan komparasi, 
analogi, diferensiasi, dan sintesis. Pada umumnya karya seni yang 
dinilai baik akan memberikan kepuasan spiritual dan intelektual 
bagi pengamatnya.


B. Pengembangan Sikap Empati kepada Profesi

Seniman dan Budayawan
Apresiasi seni budaya, termasuk seni rupa, sebagai bagian dari 
estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas kemampuan 
mengapresiasi keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan 
ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu 
menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan 
kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan 
yang harmonis. Pengenalan akan tokoh-tokoh seni budaya dan 
reputasinya, kontribusi mereka bagi masyarakat dan bangsa, 
atau bagi kemanusiaan pada umumnya, adalah upaya nyata 
mengembangkan perasaan simpati, yang jika dilakukan berulang-
ulang akan meningkat menjadi perasaan empati. Sehingga peserta 
didik menjadi kagum akan prestasi dan jasa-jasa para seniman 
atau budayawan berdasarkan kualitas karya seni dan pengakuan 
serta penghargaan yang diperolehnya, baik dalam tingkat lokal, 
nasional, dan internasional.


C. Mengamalkan Prilaku Manusia Berbudaya dalam Kehidupan Bermasyarakat

Sebelum membahas prilaku manusia berbudaya dalam 
kehidupan bermasyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu 
hakikat dan pengertian kebudayaan. Kata budaya berasal dari 
bahasa sansekerta, buddayah bentuk jamak dari kata budhi yang 
berarti akal dan nalar. Jadi kata kebudayaan dapat diartikan hal-
hal yang berhubungan dengan budi, akal, dan nalar. Menurut 
Koentjaraningrat, kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan 
karya manusia yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta 
keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Kebudayaan memiliki 
tiga wujud, 
(1) kebudayaan sebagai konsep, 
(2) kebudayaan sebagai 
aktivitas, dan 
(3)kebudayaan sebagai artefak. Dengan klasifikasi 
seperti ini seluruh aktivitas interaksi manusia dengan Tuhan, 
interaksi dengan masyarakat, dan interaksi dengan alam, semuanya 
adalah kebudayaan.
Kata budaya sering juga dipadankan dengan kata adab, yang 
menunjukkan unsur-unsur budi luhur dan indah, misalnya kesenian, 
sopan santun, dan ilmu pengetahuan, adalah peradaban atau 
kebudayaan. Namun menurut Van Peursen dewasa ini, filsafat 
kebudayaan modern akan meninjau kebudayaan terutama dari 
sudut policy tertentu, sebagai satu strategi atau masterplan bagi 
hari depan. Kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan 
setiap orang dan setiap kelompok orang-orang; berlainan dengan 
hewan-hewan maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah-
tengah alam, melainkan selalu mengubah alam itu.


Dengan mengenal, memahami, dan menghargai budayanya 
sendiri, para siswa dapat mengembangkan potensi prilaku yang 
baik bergaul dengan masyarakat seni dan lingkungan sosial sebagai 
insan yang berbudaya. Mengembangkan sikap ramah, dan rendah 
hati dalam berinteraksi secara efektif dengan para seniman dan 
budayawan, lingkungan sosial serta dalam menempatkan dirinya 
sebagai cerminan bangsa yang berbudaya dalam pergaulan dunia.

D. Interaksi dan Komunikasi Efektif dengan Lingkungan Seni Budaya

Dari pengalaman belajar apresiasi seni, di harapkan berkembang 
sikap demokratis, etis, toleransi, dan sikap positif lainnya. Sikap 
demokratis misalnya akan tercermin ketika siswa mengacu kepada 
prinsip diferensiasi dan tidak diskriminatif, hal ini akan terjadi 
bila ia memberi peluang yang sama kepada semua anggota panitia 
mengemukakan pendapat untuk menentukan, misalnya, tema 
pameran. Contoh sikap demokratis lain, adalah prilaku yang 
tidak bias gender. Siswa akan memperlihatkan penerapan prinsip 
kesetaraan gender sesama teman dan pergaulan dengan masyarakat 
seni dan lingkungan pergaulan sosial pada umumnya. Sikap 
toleran akan tercermin ketika siswa dapat menerima perbedaan 
pendapat dalam aktivitas mengapresiasi seni, karena dari kajian 
yang dilakukannya dalam menafsirkan data pengamatan perbedaan 
respons estetik adalah sesuatu yang wajar. Sebab dia tahu pada 
dasarnya seni dapat dipersepsi secara berbeda. Sikap etis akan 
tercermin bila siswa dalam kegiatan diskusi yang hangat, tidak 
mengucapkan kata-kata atau menunjukkan prilaku yang bernada 
melecehkan, menertawakan, merendahkan, menghina, atau kata 
lain yang setara dengan itu.
Dari perolehan kehidupan berbudaya dalam proses pembelajaran 
di sekolah, dan dari interaksi siswa dengan dunia seni (kunjungan 
pameran, museum, galeri, sanggar, atau pergaulan langsung, 
misalnya, dalam kegiatan diskusi dalam kegiatan pameran di 
sekolah dan lain-lain). Diharapkan para siswa dapat berinteraksi 
dengan santun dan efektif dengan lingkungan masyarakat yang 
lebih luas, termasuk lingkungan seni budaya, di mana ia bermukim.
Dengan sikap berbudaya seperti itu, maka para siswa dapat 
mengamalkan prilaku positif dan optimistik dalam berinteraksi 
dengan masyarakat seni rupa, seni pertunjukan, dan masyarakat 
dalam konteks lokal, nasional, dan internasional.


E. Rangkuman

Apresiasi seni rupa adalah aktivitas mengindra karya seni 
rupa, menghargai nilai-nilai keindahan, keberagaman, dan kaidah 
artistik eksistensi dunia seni rupa. Sikap apresiatif ini terbentuk, atas 
kesadaran akan kontribusi para seniman bagi bangsa dan negara, 
atau bagi nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya. Pengenalan 
akan tokoh-tokoh budaya, perupa murni, pedesain, dan pekria, 
dan reputasinya, adalah upaya nyata mengembangkan perasaan 
simpati, yang jika dilakukan berulang-ulang akan meningkat 
menjadi perasaan empati.

F. Refleksi

Setiap manusia dianugerahi oleh Tuhan perasaan keindahan, 
sadar atau tidak manusia menerapkan rasa keindahan ini dalam 
kehidupan sehari-hari. Dalam aktivitas kesenirupaan, baik dalam 
proses penciptaan, pengkajian, dan penyajiannya senantiasa dipandu 
oleh rasa keindahan yang sifatnya esensial dalam seni. Pada 
hakikatnya pengalaman menikmati rasa keindahan itu memberikan 
kebahagiaan spiritual bagi manusia. Oleh sebab itu sudah selayaknya 
manusia mensyukuri anugerah Tuhan itu, dan memuliakan Nama-
Nya.

G. Uji Kompetensi

1. Sikap Berapresiasi

• Cari dan buatlah kliping reproduksi karya seni lukis, yang 
dipilih berdasarkan lukisan yang anda senangi.
• Tulis biografi ringkas tokoh pelukis yang karya-karyanya 
anda kliping.

2. Keterampilan Berapresiasi

• Pilih satu di antara 3 lukisan yang dipajang di depan kelas.
• Kemudian kemukakan hasil apresiasi anda dengan tahapan 
yang benar untuk menyimpulkan makna lukisan.

3. Pengetahuan Apresiasi

a. Kognitif

• Uraikan dengan ringkas pemahaman anda tentang tiga 
domain apresiasi seni.
• Jelaskan proses kegiatan apresiasi seni dengan pendekatan 
saintifik.


b. Metakognitif

Tulis latar belakang mengapa anda memilih lukisan-lukisan 
yang anda kliping, kemukakan alasan-alasan logis mengapa 
anda mengapresiasinya dengan baik. Kemudian uraikan 
manfaat aktivitas berapresiasi seni bagi kehidupan anda 
pribadi.

4. Penilaian Diri

a. Apakah anda telah dapat membedakan lukisan yang indah 
dengan lukisan yang kurang indah?
b. Apakah anda telah dapat menemukan tema dan makna 
lukisan yang anda apresiasi?
c. Apakah penafsiran makna seni yang anda buat dapat 
dipertanggungjawabkan?


Tags:

apresiasi seni rupa
apresiasi seni pada prinsipnya merupakan 
aktivitas mental yang mencakup penghargaan yang bersifat
apresiasi seni adalah
apresiasi seni budaya mancanegara
apresiasi seni amatlah penting bagi kehidupan kita karena
apresiasi seni budaya
apresiasi seni hakikatnya nya sama dengan
apresiasi seni rupa memiliki tiga tingkatan urutan tingkatan apresiasi seni yang benar adalah
apresiasi seni adalah kegiatan mengamati dan menghargai bobot seni atau
apresiasi seni artinya